Sabtu, 15 Juli 2017

PENGAMATAN GEOFISIKA GUNUNG AGUNG

Seismik
Dari hasil pengamatan seismik dengan multistasiun pada periode tahun 2000 -2002, memperlihatkan sebaran episenter berada di luar kawah (puncak) G. Agung dengan kedalaman 10 - 70 km di atas muka laut. Beberapa episenter membentuk kelurusan berarah timur laut - barat daya. Gempa-gempa tersebut diduga sebagai gempa tektonik akibat aktifitas struktur di daerah tersebut.
                          Gambar Episenter Gempa Tektonik di Sekitar Gunungapi Agung

Struktur Geologi Gunung Agung

Kaldera G. Batur Morfologi G. Agung terutama berupa kerucut gunungapi dan parasit gunungapi. Morfologi kerucut gunungapi berbentuk hampir simetri dengan ketinggian 3014 m dpl, lerengnya relatif terjal. Satuan morfologi ini dibentuk oleh bahan piroklastik dan lava, bagian puncak ditutupi oleh bahan lepas yang cukup tebal, terutama piroklastik jatuhan hasil letusan tahun 1963. Sedangkan morfologi parasit gunungapi derah G. Agung terdapat pada lereng tenggara, membentuk kerucut-kerucut gunungapi (cone shape), diantaranya G. Pawon (800 m dpl). Beberapa kerucut pada bagian timur Gunungapi Agung, diduga bukan merupakan parasit dari Gunungapi Agung. Bahan pembentuksatuan morfologi ini terdiri dari lava dan bahan lepas berupa skoria atau "cinder".
Stratigrafi G. Agung didasarkan pada tingkat kesegaran batuan serta hubungan antara satuan batuan. Posisi stratigrafi dari produk yang tertua sampai dengan termuda adalah sebagai berikut :
Formasi Ulakan (Uvs) terdiri dari batu gamping koral, lava dan breksi vulkanik. Batuan ini diperkirakan Andesit basaltis.
Kelompok batuan Kondangdia (Kv) Kelompok batuan ini terdapat pada bagian timur hasil dari aktifitas tua terdiri dari aliran lava tua dengan struktur "sheeting joint", agak lapuk. 
Kelompok Batuan Budakeling (Bv) terdapat di bagian tenggara Gunungapi Agung yaitu di daerah Budakeling terdiri dari lava dan breksi vulkanik dengan fragmen-fragmen batuan beku yang beraneka ragam. 
Kelompok Batuan Cemara (Cv) terdapat pada bagian selatan, berupa lava dan batuan piroklastik. 
Kelompok Batuan Tabis (Tv) terletak di sebelah barat Gunungapi Agung, dibentuk oleh lava dan piroklastik.
Kelompok Batuan Vulkanik Batur (BAv) terdapat pada bagian barat Gunungapi Agung dan merupakan hasil erupsi Gunungapi Batur tua. 
Struktur geologi Komplek Gunungapi Agung - Abang - Batur - Budakeling menunjukkan suatu kelurusan berarah barat laut - tenggara. Sungai Tukad Daya - Tukad lateng menunjukkan suatu kelurusan yang memotong sebagian bukit Tabis yang terdapat di bagian tengahnya. Pada bagian selatan - tenggara Gunungapi Agung memperlihatkan alihan pematang punggungan yang diduga akan terbentuk rekahan geser menganan.

Sumber : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi

SEJARAH ERUPSI GUNUNG AGUNG

Erupsi Gunungapi Agung yang diketahui sebanyak 4 kali sejak tahun 1800.

Tahun Letusan
 Kegiatan
1808
Dalam tahun ini dilontarkan abu dan batuapung dengan jumlah luar biasa
1821
Terjadi Erupsi normal, selanjutnya tidak ada keterangan
1843
Erupsi didahului oleh gempa bumi. Material yang dimuntahkan yaitu abu, pasir, dan batuapung. Selanjutnya dalam tahun 1908, 1915, dan 1917 di berbagai tempat di dasar kawah dan pematangnya tampak tembusan fumarola.
1963
Erupsi dimulai tangga 18 Februari 1963 dan berakhir pada tanggal 27 Januari 1964. Erupsi bersifat magnatis. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.

Karakter Letusan
Pola dan sebaran hasil erupsi lampau sebelum tahun 1808, 1821, 1843, dan 1963 menunjukkan tipe letusan yang hampir sama, diantaranya adalah bersifat eksplosif (letusan, dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu), dan efusif berupa aliran awan panas, dan aliran lava. Lava yang meleler antara 19 Februari dan 17 Maret 1963 mengalir dari kawah utama di puncak ke utara, lewat tepi kawah yang paling rendah, berhenti pada garis ketinggian 505,64 m dan mencapai jarak ± 7.290 m.

Di Gunungapi Agung terdapat dua macam awan panas, yakni awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi pada waktu ada letusan besar. Kecepatan dari awan letusan ini menurut pengamatan dari Pos Rendang adalah rata-rata 60 km per jam dan di sebelah selatan mencapai jarak paling jauh 13 km, yakni di T. Luah dan di sebelah utara 14 km di T. Daya. Daerah yang terserang awan panas letusan pada kegiatan 1963 terbatas pada lereng selatan dan utara saja, karena baik di barat maupun di sebelah timur kawah ada sebuah punggung. Kedua punggung ini memanjang dari barat ke timur. Awan panas letusan yang melampaui tepi kawah bagian timur dipecah oleh punggung menjadi dua jurusan ialah timur laut dan tenggara. Demikian awan panas di sebelah barat dipecah oleh punggung barat ke jurusan baratdaya dan utara. Awan panas letusan yang terjadi selama kegiatan 1963 telah melanda tanah seluas ±70km2 dan menyebabkan jatuh 863 korban manusia.

Sumber : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi